Minggu, 23 Agustus 2009

Wayang Klithik, Siapa yang Peduli


”Wayang Klithik”, dan pelestarian budaya koleksi

Oleh Drs.Bambvang Sugiharto,MPd.


Wayang Klithik sebagai koleksi Etnogarfika, budaya phisik dimaknai sebagai peninggalan seni adiluhung, bernilai tinggi, benda budaya yang langka keberadaannya. Sebagai benda budaya peninggalan atau warisan budaya secara phisik dapat dilihat, dirawat dan dilestarikan/dikonservasi sesuai dengan jenis bahan baku yang digunakan untuk membuat wayang yaitu kayu. Wayang klithik koleksi Museum Jawa Tengah Ranggawarsita berjumlah 2 kotak (142 buah), satu kotak berasal Dukuh Jurang Desa Warang Kecamatan Krajan Kabupaten Rembang berjumlah 63 buah,dengan perkiraan usia 79 tahun,dan satu kotak lagi berasal dari Kabupaten Klaten berjumlah 79 buah dengan perkiraan usia 83 tahun.

Persoalan melestarikan sebagai benda phisik supaya terhindar dari kerusakan atau gangguan mikro organisme dapat ditempuh dengan dua cara, pertama jika kondisi wayang klithik masih normal maka di perlukan perlakuan (treatment) Fumigasi dengan menggunakan Thymol dan Ethanol dengan jangka waktu minimal selama 20hari. Proses Fumigasi diawali dengan persiapan penataan kurang lebih 2 hari untuk seluruh koleksi wayang Klithik di ruang Fumigasi, kemudian Thymol dilarutkan dengan Ethanol diuapkan dalam ruang fumigasi selama 15 hari, selanjutnya dilakukan sirkulasi atau pembuangan udara yang mengandung uap kimia selama 7 hari barulah wayang klithik dapat dikeluarkan dan dikembalikan ke tempat penyimpanan/storage atau ruang pameran.

Apabila kondisi wayang memerlukan perlakuan cara kedua sudah mengalami kerusakan akibat gulma kayu, maka disuntikkan cairan bahan anti rayap ( Lentrek) dengan masa konservasi minimal dua hari baru dapat dikembalikan ke tempat semula.

Melihat keindahan wayang Klithik dari sisi bentuk phisik tidak cukup di ruang pamer, tetapi bagaimana dapat memaknai koleksi wayang Klithik kalau anda belum pernah melihat bagaimana wayang klithik ”di pentaskan”, wayang klithik disisi yang lain mempunyai seni pentas, pertunjukan yang lebih indah, lebih memukau dan lebih memiliki nilai luhur ajaran norma, agama serta budaya dan seni. Pewarisan budaya kepada generasi penerus kita hanya dapat dilakukan dengan mewariskan budaya hidup ( living Culture ) dari wayang klithik. Hanya saja smpai saat ini pentas wayang Klithik ini susah dijumpai dan sangat jarang dipentaskan bahkan Dalang wayang klithik ini jumlahnya sangat terbatas yang masih hanya beberapa dalang sebut saja : Ki Sarkan dan Ki Reban dari Jepara, Ki Narto Rembang dan lainnya tidak banyak, Jangan sampai anak cucu kita dikemudian hari melihat pentas wayang klithik hanya lewat film dokumenter atau bahkan melihat pentas di negeri orang semisal di Belanda, Suriname atau Malaysia atau lebih drastis lagi anak cucu kita belajar wayang dari orang luar negeri.

Pentas wayang itu sendiri tidak sesederhana yang kita lihat, mulai dari skenario pakem-nya atau lakon yang dipentaskan, Sutradara atau Dalang yang memainkan wayang, dibantu asisten dalang ( 2 orang ), Sinden atau swarawati dua sampai empat orang, penabuh gamelan atau niyaga lengkap sebanyak 20 orang, jenis iringan gending sepanjang pentas selama semalam suntuk diselingi gara-gara dan seterusnya bukanlah hal yang ringan. Semua pelaku itu dapat hidup dari pekerjaan yang berhubungan dengan wayang, maka jika kelangsungan hidup wayang klithik terjaga kelestariannya maka terjaga pula sekian puluh tenaga kerja yang dihidupi oleh satu kelompok seni wayang klithik. Apalagi efek keberadaan wayang terhadap masyarakat cukup besar mulai pedagang kecil, pekerja dan persewaan panggung dan kelengkapannya, perusahaan transportasi yang mengangkut orang maupun wayang dan kelengkapannya sampai petugas soundsystem dan toolsman.

Melestarikan koleksi tidak hanya terbatas pada koleksi wayang klithik secara phisik yang lebih penting dan lebih memberikan makna adalah pelestarian budaya Hidup wayang klithik kepada masyarakat berupa pentas budaya wayang klithik sekaligus mensejahterakan seniman dan mereka yang terlibat. Semoga.

Agustus 2009.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar