Minggu, 01 November 2009

Wayang Orang Greget Museum [WOGEM}


W.O.G.E.M ”Wayang Orang”, Greget Museum

( Bangga Peduli Budaya : ” Tali Pita Tali Sepatu ” sesama insan Pariwisata harus Bersatu, kalau ingin Maju )


Oleh Drs.Bambang Sugiharto,MPd.

Sejak lama Ibu Kota Jawa Tengah memiliki Grup Wayang Orang yang kondang Ngesti Pandowo, yang pernah mempunyai Gedung Ngesti Pandowo, Wayang Orang Sri Wanito, dengan pentas di Gedung Subokarti jalan Dr.Cipto Semarang dan sederetan panjang nama lain kelompok Wayang Orang di sekitar Kota Semarang. Sayangnya keberadaan Wayang Orang mulai surut seiring kepindahan Ngesti Pandowo ke pinggiran kota Semarang dan banyak faktor lain termasuk kepedulian Pemerintah dan masyarakat terhadap wayang orang yang semakin terpuruk. Banyak juga kelompok seniman yang mengupayakan bangkitnya kembali Kesenian Wayang Orang, lembaga yang masih nguri-uri Wayang orang di Semarang semisal Taman Budaya Raden Saleh, Dewan Kesenian Semarang dan sebagainya.
Adalah Sanggar GREGET kelompok seniman yang konsisten akan meneruskan kelestarian Wayang Orang dikomandani Bambang Priambodo bersinergi dengan Museum Jawa Tengah Ranggawarsita dan seniman serta pemerhati Wayang Orang di Jawa Tengah menorehkan tajuk Wayang Orang Greget Museum ( WOGEM ) sebagai agenda rutin Pentas Wayang Orang kelompok Sanggar Greget bersama seniman lain setiap Sabtu Kliwon malam Minggu Legi di Museum Jawa Tengah Ranggawarsita Jl.Abdurahman Saleh 1, Kalibanteng Semarang.
Pentas perdana WOGEM tanggal 24 Oktober 2009 pukul 19-00 WIB – 21.30 WIB secara gratis untuk masyarakat umum pemerhati Wayang Orang di Semarang dan sekitarnya. Dengan Lakon ” Karna Lahir – Sayembara Kunti ” didukung oleh sederet sanggar seni Sanggghita, Cahyo Kreasi, Jejaka, Sukma, Lidwina, Yuwono, Srikandi, Tanah Putih, Rahma Sari, dari Semarang- Satria –Wonosobo, Singo Barong – Demak, Warangan Merbabu – Magelang, Puspita Sakanti – Temanggung dan Studio Taksa – Surakarta secara profesional berkolaborasi menggarap setiap episode WOGEM.
WOGEM mengahadirkan jatidiri Budaya Jawa Tengah sebagai bentuk pelestarian Wayang Orang dengan kemasan arif dan matang dengan berakar tetap eksisnya Budaya Adi luhung, segmen pemirsa dan pemerhati masyarakat umum mulai anak-anak, remaja, Dewasa, Pelajar, Mahasiswa dan Orang tua yang menjadi target menuntut kreativitas seni dan konten yang multidinamis.
Terobosan seni pertunjukan WOGEM sekaligus mengisi agenda Tahun Kunjung Musuem 2010 dan Tahun Kunjung Jawa Tengah 2011 secara penuh, Lakon ”Pandawa Lahir” digelar mengawali tahun kunjung Museum 2010 pada tanggal 2 Janauari 2010, serta tgl 6 Februari 2010 dengan Lakon Dewa Ruci dan seterusnya setiap bulan gratis bagi masyarakat umum.
Epos Bharata Yuda akan digelar awal 2011 sampai sepanjang tahun, dan yang lebih penting bagaimana kepedulian anda, kepedulian masyarakat terhadap Budaya Jawa Tengah khususnya Wayang Orang agar tetap lestari dan tidak diklaim oleh Mancanegara. Kita sendiri yang harus peduli.
Dukungan anda menjadi bukti konkrit pelestarian Wayang Orang, dengan mengutip Sesanti Dinbudpar Propinsi Jawa Tengah ” Tali Pita Tali Sepatu ” sesama insan Pariwisata harus Bersatu, kalau ingin Maju.



Oktober 2009.

Selasa, 29 September 2009

Pelestarian Wayang Kulit


Menyongsong Visit Museum Year 2010:


Pelestarian Wayang Kulit, Budaya Tradisional
Koleksi Museum Jawa Tengah Ranggawarsita


Oleh : Drs. Bambang Sugiharto,MPd.

Museum Propinsi Jawa Tengah Ranggawarsita, merupakan Museum yang memiliki koleksi terbesar, dan merupakan Museum Negeri Provinsi Jawa Tengah. Dengan kelengkapan 56.000 koleksi berbagai jenis siap menyongsong Visit Museum Year 2010. Sebagai lembaga pelestari Budaya phisik maupun Budaya hidup, maka Museum Jawa Tengah Ranggawarsita telah melakukan berbagai upaya mulai pementasan Wayang Orang, Wayang Kulit dan wayang lainnya, pameran khusus Wayang Koleksi Museum, sampai Apresiasi Wayang untuk pelajar dan Pergelaran rutin Wayang Kulit Selasa Kliwon dan Pergelaran Wayang Kulit HUT Museum tiap tahun belum lagi acara Wayang Orang Greget Museum ( WOGEM) setiap Sabtu Kliwon mulai November 2009.
Ki Demang Suryanto, sebagai pemerhati Budaya sekaligus pelaku pelestari Budaya Wayang dari Museum Ranggawarsita, merupakan sosok PNS yang peduli dan Bangga akan warisan Budaya Wayang Kulit. Bagaimanapun Koleksi Wayang yang tersimpan di Museum Ranggawarsita sejumlah 13 jenis wayang, dengan total 20 buah peti atau 1982 buah wayang mulai wayang : Beber, Klitik, Wahyu, Kancil, Budha, Golek Menak, Golek Purwa, Suket, Kulit Purwa dan Potehi atau wayang china tidak dapat lagi ditonton atau dipagelarkan di daerah-daerah. Bahkan ada jenis wayang yaitu Klithik yang mulai sulit mencari Dalang yang masih memainkan wayang Klithik.
Berbekal akan kepedulian tadi maka Ki Demang dan teman pemerhati sekaligus pelaku Budaya Wayang Kulit yang tergabung dalam kelompok Maju Kareb, dengan setia “nggladi pringgitan” dalam forum Pagelaran Wayang Kulit Selasa Kliwon-an di Museum Jawa Tengah Ranggawarsita Jl Abdulrakhman Saleh no 1 Semarang.
Uniknya kelompok ini melaksanakan pagelaran wayang kulit dengan biaya sendiri atau iuran dari semua anggota serta donatur masyarakat untuk biaya pementasan, dan difasilitasi sarana tempat dan peralatannya oleh Museum Jawa Tengah Ranggawarsita.
Sebut saja Dalang Suryanto, Dalang Sunaryo DS, Dalang Oon Sartono, dan Dalang Tugino dan Dalang Jayeng adalah buah dari kepedulian kelompok ini. Mereka telah banyak menerima tawaran main di berbagai daerah yang berarti telah ikut melestarikan budaya tradisi wayang kulit. Pagelaran Selasa Kliwon terakhir 28 September 2009 ( Ki Jayeng) mengambil lakon Noyorono Rabi ( Kresno Kawin /Menikah) dan pagelaran berikut adalah Selasa Kliwon ( Anggara Kasih ) tanggal 02 November 2009.

Pelestarian Wayang Kulit yang telah dilaksanakanara rutin oleh Museum Ranggawarsita melalui Konservasi Fumigasi, setiap tahun rata-rata 6 peti wayang atau setara 660 buah. Sejak 2007 sampai 2009 selama tiga tahun terakhir 18 peti wayang telah dikonservasi. Idealnya tiap peti harus dikonservasi dengan Fumigasi setiap tahun sekali, sedangkan sekarang baru 3 tahun sekali setiap peti ( 20 peti koleksi seluruhnya ) mendapat giliran konservasi . Kendala utama adalah kemampuan lembaga dalam hal apenyediaan biaya konservasi.
Akses transportasi yang sering menjadi kendala bagi Daerah Tujuan Wisata tidak berlaku bagi Museum Ranggawarsita, lokasi yang sangat strategis di Bundaran Kalibanteng Semarang, hanya 1 Km dari Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang
Semoga kita masih peduli pada warisan budaya wayang kulit.

Semarang, akhir September 2009

Senin, 31 Agustus 2009

Menyongsong Visit Museum Year 2010 Museum Jawa Tengah Ranggawarsita



Visit Museum Year 2010,
Museum Jawa Tengah Ranggawarsita

Oleh : Drs. Bambang Sugiharto,MPd.

Koleksi, merupakan satu kata kunci bagi sebuah Museum yang sangat berperan bak magnet bagi pengunjung dalam kehidupan museum. Tidak banyak atau bahkan andapun, belum sepenuh hati mengenal Museum Jawa Tengah Ranggawarsita.
Tetapi Sang Profesor Takashi dari Osaka University Tokyo Japan, bersurat untuk menunjungi museum Museum Jawa Tengah Ranggawarsita beserta rombongan karena Museum Jawa Tengah Ranggawarsita, merupakan Museum yang memiliki koleksi terbesar, dan merupakan Museum Negeri Provinsi Jawa Tengah. Dengan kelengkapan 56.000 koleksi berbagai jenis dan seluruh karyawan Museum Jawa Tengah Ranggawarsita siap bersinergi di Visit Museum Year 2010.
Unsur pendukung lain yang menyebabkan sebuah Museum dikunjungi adalah kelengkapan layanan dan sarana yang tersedia. Museum Ranggawarsita telah bersiap diri mulai dari Tata Pameran, pemandu, souvenir shop, layanan Audio visual, Free Hot Spot area, Ruang Apresiasi Seni, Meeting Room, Ticketing dan Travel Biro serta Limo Transport Suttle telah di gelar menanti kunjungan masyarakat dalam dan luar negeri. Mulai pukul 07.30 sampai 15.00 WIB, ruang pamer tetap dapat dikunjungi dan selalu buka bahkan dihari libur dan hari Besar, ini satu-satunya museum negeri yang setiap hari buka tidak pernah libur.
Akses transportasi yang sering menjadi kendala bagi Daerah Tujuan Wisata tidak berlaku bagi Museum Ranggawarsita, lokasi yang sangat strategis di Bundaran Kalibanteng Semarang, hanya 1 Km dari Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang atau 2 menit dengan taxi, 10 Km dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang atau 7 menit dengan taxi, 12 Km dari Pusat Keramaian Kota Semarang Simpang Lima, Pasar Johar/ kota Lama atau 10 menit dengan taxi dan 15 Km dari Terminal Induk Bus Mangkang atau 15 menit dengan taxi serta dari Stasiun Kereta Api Tawang 10 km atau taksi 7 menit dengan taxi.
Itulah sebabnya maka Profesor Koezuka Takashi dengan rombongan sejumlah 11 orang ( bersama Prof. Sukami, Mr.Takeshi Asanuma seorang curator sculpture ( Kyoto National Museum) an 4 Mahasiswa Japan mengunjungi Museum Jateng Ranggawarsita 12 Agustus 2009 khusus meneliti koleksi Sculpture / Bronze yang ada.
Sebelumnya Prof. Naoko Ito,Ph.D ( Hiroshima University) Prof. Mizuno Saya.Ph.D ( Daito Bunka University) dan Prof.Park Hyounggook Ph.D (Musashino Art University) dan rombongan ( 4 orang) pada 10 Agustus 2009 telah datang dan beliau sangat tertarik dengan koleksi Museum Ranggawarsita sekaligus mengambil gambar koleksi Perunggu yang sangat jarang dijumpai (master piece) Vajra dan Vajra Bell, dua koleksi yang pertama ditanyakan . Juga Standing Ganesha yang merupakan satu-satunya koleksi Perunggu yang amat langka di Indonesia.
Sebagai Destinasi dalam peta Pariwisata Jawa Tengah, mulai Januari 2009 sejumlah Cruise Ship dari Eropa, Asia dan Australia telah singgah di Pelabuhan Tanjung Emas dan beberapa diantaranya lewat Angsa Tour dan Merapi Tour singgah juga di Museum Jawa Tengah Ranggawarsita dan sebagai promo sekaligus peduli budaya, ditampilkan seni tradisional mulai, Kuda lumping, Sintren, wayang kulit sampai barongsay dan demo membatik.
Layanan yang dikembangkan selain pameran tetap, pameran khusus koleksi, juga pameran keliling, Layanan Berceritera dan outdoor exhibition ( dalam proses penataan).
Anda bangga dan peduli budaya, jangan ketinggalan dengan wisatawan mancanegara, anda pasti bisa.

1)Mr.Takeshi Asanuma seorang curator sculpture ( Kyoto National Museum) meneliti koleksi perunggu sebagai anggota rombongan Prof. Koezuka Takashi dari Museum of Osaka University.
2)Prof. Naoko Ito,Ph.D (Hiroshima University) sedang mengisi buku tamu beserta rombongan di VIP Room Museum Jawa Tengah Ranggawarsita.


Semarang, Agustus 2009

Minggu, 23 Agustus 2009

Wayang Klithik, Siapa yang Peduli


”Wayang Klithik”, dan pelestarian budaya koleksi

Oleh Drs.Bambvang Sugiharto,MPd.


Wayang Klithik sebagai koleksi Etnogarfika, budaya phisik dimaknai sebagai peninggalan seni adiluhung, bernilai tinggi, benda budaya yang langka keberadaannya. Sebagai benda budaya peninggalan atau warisan budaya secara phisik dapat dilihat, dirawat dan dilestarikan/dikonservasi sesuai dengan jenis bahan baku yang digunakan untuk membuat wayang yaitu kayu. Wayang klithik koleksi Museum Jawa Tengah Ranggawarsita berjumlah 2 kotak (142 buah), satu kotak berasal Dukuh Jurang Desa Warang Kecamatan Krajan Kabupaten Rembang berjumlah 63 buah,dengan perkiraan usia 79 tahun,dan satu kotak lagi berasal dari Kabupaten Klaten berjumlah 79 buah dengan perkiraan usia 83 tahun.

Persoalan melestarikan sebagai benda phisik supaya terhindar dari kerusakan atau gangguan mikro organisme dapat ditempuh dengan dua cara, pertama jika kondisi wayang klithik masih normal maka di perlukan perlakuan (treatment) Fumigasi dengan menggunakan Thymol dan Ethanol dengan jangka waktu minimal selama 20hari. Proses Fumigasi diawali dengan persiapan penataan kurang lebih 2 hari untuk seluruh koleksi wayang Klithik di ruang Fumigasi, kemudian Thymol dilarutkan dengan Ethanol diuapkan dalam ruang fumigasi selama 15 hari, selanjutnya dilakukan sirkulasi atau pembuangan udara yang mengandung uap kimia selama 7 hari barulah wayang klithik dapat dikeluarkan dan dikembalikan ke tempat penyimpanan/storage atau ruang pameran.

Apabila kondisi wayang memerlukan perlakuan cara kedua sudah mengalami kerusakan akibat gulma kayu, maka disuntikkan cairan bahan anti rayap ( Lentrek) dengan masa konservasi minimal dua hari baru dapat dikembalikan ke tempat semula.

Melihat keindahan wayang Klithik dari sisi bentuk phisik tidak cukup di ruang pamer, tetapi bagaimana dapat memaknai koleksi wayang Klithik kalau anda belum pernah melihat bagaimana wayang klithik ”di pentaskan”, wayang klithik disisi yang lain mempunyai seni pentas, pertunjukan yang lebih indah, lebih memukau dan lebih memiliki nilai luhur ajaran norma, agama serta budaya dan seni. Pewarisan budaya kepada generasi penerus kita hanya dapat dilakukan dengan mewariskan budaya hidup ( living Culture ) dari wayang klithik. Hanya saja smpai saat ini pentas wayang Klithik ini susah dijumpai dan sangat jarang dipentaskan bahkan Dalang wayang klithik ini jumlahnya sangat terbatas yang masih hanya beberapa dalang sebut saja : Ki Sarkan dan Ki Reban dari Jepara, Ki Narto Rembang dan lainnya tidak banyak, Jangan sampai anak cucu kita dikemudian hari melihat pentas wayang klithik hanya lewat film dokumenter atau bahkan melihat pentas di negeri orang semisal di Belanda, Suriname atau Malaysia atau lebih drastis lagi anak cucu kita belajar wayang dari orang luar negeri.

Pentas wayang itu sendiri tidak sesederhana yang kita lihat, mulai dari skenario pakem-nya atau lakon yang dipentaskan, Sutradara atau Dalang yang memainkan wayang, dibantu asisten dalang ( 2 orang ), Sinden atau swarawati dua sampai empat orang, penabuh gamelan atau niyaga lengkap sebanyak 20 orang, jenis iringan gending sepanjang pentas selama semalam suntuk diselingi gara-gara dan seterusnya bukanlah hal yang ringan. Semua pelaku itu dapat hidup dari pekerjaan yang berhubungan dengan wayang, maka jika kelangsungan hidup wayang klithik terjaga kelestariannya maka terjaga pula sekian puluh tenaga kerja yang dihidupi oleh satu kelompok seni wayang klithik. Apalagi efek keberadaan wayang terhadap masyarakat cukup besar mulai pedagang kecil, pekerja dan persewaan panggung dan kelengkapannya, perusahaan transportasi yang mengangkut orang maupun wayang dan kelengkapannya sampai petugas soundsystem dan toolsman.

Melestarikan koleksi tidak hanya terbatas pada koleksi wayang klithik secara phisik yang lebih penting dan lebih memberikan makna adalah pelestarian budaya Hidup wayang klithik kepada masyarakat berupa pentas budaya wayang klithik sekaligus mensejahterakan seniman dan mereka yang terlibat. Semoga.

Agustus 2009.

Senin, 27 Juli 2009

Bangga Peduli Budaya : Resik-resik Tugu Muda Semarang




Berawal dari niat konservasi Benda Cagar Budaya dan kepedulian terhadap Monumen Tugu Muda Semarang, maka Karyawan Museum Jawa Tengah Ranggawarsita bekerjasama dengan BEM Undip Semarang, BEM Unnes, Mahasiswa PKL Unnes, PKL SMK Tekmaco dan PKL SMK N 11 Semarang menggelar klegiatan Resik-Resik Tugu Muda Semarang pada tanggal 18 Juli 2009, Hari Sabtu pagi mulai pukul 06.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB.

Menjadi suatu keprihatinan kita kalamana menyaksikan Monumen Kota Semarang, yang diresmikan oleh Bung Karno tanggal 20 Mei pada tahun 1953 sebagai lambang Heroisme Pemuda Semarang dalam Pertempuran 5 Hari yang bersejarah itu, mulai ditumbuhi gulma, sejenis rumput pakis dan kurang terjaga kebersihan dari lumut dan debu. Terakhir dilakukan konservasi teman2 Museum Jawa Tengah Ranggawarsita pada tahun 1989, nyaris dua puluh tahun lalu sampai sekarang baru diupayakan menarik perhatian "Pihak yang berkompeten " dengan kegiatan resik-resik Tugu Muda.

Dengan seijin Pemkot Semarang lewat Dinas Pertamanan Kota Semarang, pukul 06.00 pagi dimulai membersihkan Landasan kaki Tugu Muda yang memiliki relief pertempuran 5 Hari Semarang, secara phisik, dengan peralatan yang sederhana dan aman untuk konservasi.

Konservasi memang dapat dilakukan dengan dua cara yaitu sistem basah dan kering, dengan menggunakan cairan kimia pembasmi lumut lalu dikeringkan, setelah dibersihkan kemudian dilapis dengan Monoseal. Karena terbatasnya kemampuan dan donatur maka hanya dibersihkan dengan cara phisik landasan Tugu Muda dicabuti gulma, rumputan dan dibersihkan lumutnya dengan sikat ijuk dan dibersihkan debu dan sampah dibawahnya.

BEM Undip menampilkan juga Teatrikal Selamatkan Monumen Tugu Muda, membagi poster dan leaflet Selamatkan Benda Cagar Budaya Monumen Tugu Muda Semarang. Semoga masyarakat Semarang Peduli dan Merawat Benda Cagar Budaya.

khir, Juli 2009

Selasa, 21 Juli 2009

Paradigma Baru Museum



Oleh: Bambang Sugiharto[1]
A. Pendahuluan
Pada saat ini banyak museum didirikan lembaga lembaga pemerintah maupun non pemerintah antara lain berupa Museum propinsi, museum kota, museum kabupaten, museum ipteks, dan museum produk tertentu merupakan kategori museum yang didirikan oleh lembaga-lembaga tersebut.
Keberadaan museum sampai sekarang dipandang sebagai lembaga-lembaga konservasi, ruangan-ruangan pameran atas Peninggalan dan tempat-tempat alamiah, arkeologis dan etnografis, peninggalan tempat-tempat bersejarah, makhluk-makhluk hidup, seperti kebun-kebun tanaman dan binatang, akuarium, makhluk dan tumbuhan lain, Suaka alam dan sebagainya. Hal ini mengacu definisi International Council of Museums(ICOM), Kamus Besar Bahasa Indonesia maupun Kamus Webster yang menyebutkan bahwa, museum mengacu pada lembaga, bangunan atau tuangan untuk memelihara dan melindungi, memamerkan benda-benda yang bernila seni, bersejarah, dan bernilai ilmu penegtahuan. (Neufeld ed. in chief, 1988; Webster New World Dict).
Sebagai sebuah lembaga, museum memiliki fungsi sebagai : Pusat Dokumentasi dan Penelitian llmiah ,Pusat penyaluran ilmu untuk umum , Pusat penikmatan karya seni , Pusat perkenalan kebudayaan antar daerah dan antar bangsa , Obyek wisata, Media pembinaan pendidikan kesenian dan llmu Pengetahuan , Suaka Alam dan Suaka Budaya . Cermin sejarah manusia, alam dan kebudayaan ,Sarana untuk bertaqwa dan bersyukur kepada Tuhan YME.
Masyarakat selama ini melihat museum sebagai tempat yang pasif dan statis, artefak dan budaya fisik lain yang dilihat, dibaca dan dinikmati keindahan fisiknya. Meseum tampak sebagai sebuah bangunan kuno, angker, gelap, sunyi dan tidak terawat kebersihan koleksi maupun lingkungannya dan hanya dikunjungi jika diperlukan sebagai tempat penelitian, pengkajian ilmu atau pembelajaran saja. Dan sangat tidak menarik untuk dikunjungi sampai terpatri pameo : Berkunjung ke Museum seumur hidup hanya dua kali saja, yaitu pertama kali pada waktu masih kecil dan terakhir pada waktu mengantarkan sang cucu.


B. Museum dan Pengkajian serta Pelestarian Budaya
Paradigma Museum seperti gambaran di atas harus dirubah secara perlahan dan pasti dalam era globalisasi, mulai dengan penerapan Manajemen modern, Implementasi Teknologi Informasi dan Komunikasi dan pengembangan sumber daya manusia, serta meletakkan museum sebagai Obyek dan Daya Tarik Wisata (ODTW) sesuai Undang2 nomor 10 tahun 2009 tentang Kebudayaan dan Pariwisata.
Berdirinya banyak museum di sejumlah wilayah di Nusantara memberikan manfaat positif bagi para pengguna terutama ilmuwan dan mahasiswa serta pelajar, termasuk para guru dan peserta didik. Museum sebagai Pusat pengetahuan dan planetarium dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran, sebagai ruang belajar, media belajar, sumber belajar, dan tempat pemberian tugas bagi siswa yang sedang belajar. Kajian atas sejumlah peninggalan budaya dapat dilakukan di museum, dari segala aspek kehidupan demikian pula perawatan atas koleksi yang beragam memerlukan berbagai disiplin ilmu untuk mengkonservasi koleksi tersebut bahkan untuk melestarikannya.
Jika dilihat dari museum sebagai pusat kajian ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebudayaan, maka museum bukan menjadi suatu tempat yang pasif lagi. Karena disana berkembang forum ilmiah diskusi, seminar dan workshop atas kajian yang dilaksanakan yang menungkinkan timbul ilmu dan pengetahuan yang baru, teknologi yang baru yang menciptakan kondisi dinamis bagi sebuah museum. Interaksi antara ilmuwan, mahasiswa, pelajar dan
masyarakat dengan komunitas pengelola museum menjadikan museum tempat yang tidak lagi sepi, dan statis.
Disinilah peran Sumber Daya Manusia pengelola museum mampu menangkap peluang kajian ini sekaligus mempersiapkan manajemen dan sarana yang mendukung terjadinya aktivitas baru yaitu museum sebagai tempat ilmiah forum kajian ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebudayaan
Museum, berdasarkan definisi Direktorat Permuseuman adalah institusi permanen, nirlaba, melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka, dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengkonservasi, meriset, mengkomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan kesenangan. Karena itu ia bisa menjadi bahan studi oleh kalangan akademis, dokumentasi kekhasan masyarakat tertentu, ataupun dokumentasi dan pemikiran imajinatif di masa depan (situs Direktorat Permuseuman).
Dari sisi konservasi atas artefak benda cagar budaya maka museum merupakan pusat perawatan dan pemeliharaan, dan bahkan perlindungan/pelestarian fisik dan non fisik. Secara fisik kegiatan konservasi benda cagar budaya seperti keris pada saat ” jamasan ” menjadi suatu kegiatan dinamis dan dapat menarik minat pemerhati kebudayaan jawa.Disisi lain secara non fisik atraksi Jamasan ini merupakan daya tarik bagi wisatawan yang sekaligus melestarikan adat kebiasaan/tradisi jamasan dalam masyarakat Jawa.
Suatu hal yang perlu direnungkan adalah sisi non fisik untuk pelestarian budaya atas koleksi yang dimiliki suatu museum. Memiliki koleksi benda cagar budaya secara fisik untuk melestarikan benda budaya tersebut dapat dengan cara disimpan di museum, tetapi secara non fisik bagaimana melestarikan budaya serta seni pertunjukan yang berkaitan dengan benda koleksi itu ( koleksi wayang : beber, kulit, krucil, golek; topeng;barong;calung angklung; gamelan). Atraksi budaya atas benda cagar budaya koleksi yang dimiliki atau visualisasi atas koleksi berupa pementasan/pagelaran/ parade/festival seni tradisional bagi suatu museum adalah merupakan suatu upaya melestarikan budaya atas benda koleksi yang dimiliki, sehingga masyarakat tidak hanya mengenal seni dan budaya tradisional lewat buku cerita, film , dongeng dan legenda tutur saja melainkan menikmati langsung berupa living culture.
Sisi inilah yang memberikan kontribusi dan ikut menciptakan museum menjadi aktif dan dinamis, disamping lebih mempopulerkan keberadaan museum atau kegiatan atraksi tersebut menjadikan museum mendapat lebih banyak perhatian peminat untuk berkunjung pada akhirnya museum tidak sepi lagi.

C. Museum dan Pariwisata
Secara organisatoris perubahan manajemen pengelolaan museum dibawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mempengaruhi juga peran dan fungsi museum, satu diantaranya dalam pengembangan pariwisata sebagai salah satu Obyek dan Daya tarik Wisata (ODTW). Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yangdisediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah,dan Pemerintah Daerah. ( UU nonor 10 tahun 2009 tentang Kebudayaan dan Pariwisata). Sedangkan Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yangterkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesamawisatawan, Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan
pengusaha.
Daya Tarik Wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan,keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam,budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan.Daerah tujuan pariwisata yang selanjutnya disebut Destinasi Pariwisata adalah kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah administratifyang di dalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan.
Museum dengan perubahan situasi dan kondisi sekarang akan merespon dirinya sebagai salah satu tujuan wisata atau ODTW, dengan syarat menjadi suatu lembaga yang aktif, dinamis dan atraktif. Maka akan lengkaplah keberadaan museum sebagai destinasi jika mulai merubah performance sebagai lembaga yang aktif,atraktif, dinamis yang semula lembaga pasif dan konservatif saja. Apalagi di era otonomi daerah ini ada tuntutan dari Pemerintah Daerah setempat museum sebagai lembaga Unit Pelayanan Teknis Daerah memiliki tugas mendukung fungsi budget daerah sebagai pendukung pendapatan daerah alias pemasok PAD.
Dengan perubahan paradigma lama ke paradigma baru Museum menjadi lembaga plus, artinya sesuai undang2 menjadi lembaga yang aktif, atraktif dan dinamis dapat dipastikan mampu mengemban tugas sebagai penyumbang PAD yang dapat diandalkan melalui kunjungan wisatawan asing maupun domestik. Tentunya merubah paradigma seperti ini tidak semudah membalikan telapak tangan banyak faktor penghambat baik internal maupun external, infra struktur maupun supra struktur tetapi perlu diperhatikan juga faktor pendorong yang cukup besar untuk mewujudkan paradigma baru museum.

D. Penutup
Pengertian harfiah dapat dilihat dalam beberapa kamus selama ini bahwa museum adalah gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap benda-benda yang patut mendapat perhatian umum, seperti peningalan sejarah, seni, dan ilmu penegtahuan; tempat menyimpan barang kuna (Anton Moeliono (ed), 1993) dituntut mulai bergeser dan dipahami lebih luas sebagai tempat pengembangan, pengkajian dan pelestarian baik budaya fisik maupun non fisik. Disini dituntut museum menjadi lembaga yang aktif, atraktif dan dinamis, lebih menarik pengunjung atau wisatawan dan sekaligus pendulang atas PAD. Dengan demikian pariwisata akan lebih berkembang destinasinya dengan museum didalamnya, tentunya perlu disertai manajemen dan SDM, serta sarana pendukung kepariwisataan lainnya. Termasuk kerjasama networking dengan dunia pariwisata terutama dengan pengelola perjalanan wisata luar maupun dalam negeri serta peraga-peraga kelompok seni budaya nusantara. Kesiapan Manajemen dalam hal mengelola baik koleksi, pemasaran, tata pameran, sarana, budgeting maupun manajemen waktu. Semoga Pemerintah setempat memahami perubahan paradigma baru museum di era globalisasi dan mendukung sepenuhnya dengan kebijakan anggaran yang memadai dan memberikan subsidi, dispensasi dan prioritas lainnya untuk pengembangan museum sebagai window of culture and tourism.

Semarang , Juli 2009
[1] Kasi Pengkajian dan Pelestarian Museum Jawa Tengah Ronggowarsito.