Senin, 30 Agustus 2010

Pengambangan Layanan Pameran


Pameran Tetap dituntut lebih kreatif dan inovatif, termasuk dalam koleksi Arca dan Batu. Demikian halnya dengan Museum, keterbatasan Display Gedung Pameran Tetap untuk koleksi Arca dan Batu menuntut dikembangkannya layanan Out Door Exhibhition atau pameran luar, dengan cara meredesain taman sebagai display koleksi Arca dan Batu.
Walaupun kelihatannya mudah, tetapi banyak hal akan dijumpai dan harus diperehitungkan sebelumnya.
Beberapa hal yang perlu diperhitungkan antara lain : Grand Desaign pameran, story line, Konservasi koleksi, budgeting pengadaan baru dan perawatan koleksi, termasuk lighting jika diperlukan untuk malam hari.
Satu sample koleksi replika Stupa dengan perbandingan 1:1 sesuai asli maka diperlukan seniman yang mumpuni yang mengetahui persis tentang koleksi dimaksud, dan bagi Museum Ranggawarsita tidak mengalami kesulitan karena jaringan antar museum yang telah terbangun, hasilnya Karya kelompok Konservasi Borobudur dibawah Panglkima Pak Sudibyo berhasil merealisasi gagasan Stupa dimaksud. Sehingga akan membantu masyarakat yang belum pernah mengetahui paling tidak sebagai window of culture untuk mengetahui Borobudur secara dini.
Koleksi lain yang Asli juga sangat informatif, walaupun tuntutan security menjadi sangat ekstra ketat, termasuk CCTV demi kemanan koleksi.
Semoga alternatif pameran ini dapat menutup keterbatasan layanan terutama bagi Masyarakat yang berkebutuhan Khusus, penyandang cacat dan sejenisnya.
Semoga Museum menjadi Tujuan Wisata Utama, sebagai relisasi slogan MUSEUM DIHATIKU.

Penulis,
BAmbang Sugiharto

Senin, 24 Mei 2010

Hari Museum Indonesia


Hari Museum Indonesia
Seminare Hari Museum Indonesia telah dilaksanakan di Museum Benteng Vrederburg Yogyakarta, tanggal 22 - 23 Mei 2010, dan mengusulkan menetapkan tanggal 24 Desember sebagai HARI MUSEUM INDONESIA.
Tema HMI pertama Museum untuk Persatuan dalam Perbedaan.
Seminar ini dilaksanakan dalam rangka International Museum Day, 18 Mei 2010 yang mengangkat Tema Museum For Social Harmony yang diperingati oleh seluruh Negara Termasuk Indonesia. Penyelenggara adalah Direktorat Museum, Kemenbudpar pusat dan dihadiri oleh Museum negeri se Indonesia, perwakilan Assosiasi Museum, pemerhati dan stake holder museum serta Instansi Kementrian Budpar.
Mari kita sukseskan pencanangan Hari Museum Indonesia semoga menjadi tonggak dinamika dan pengembangan Museum kita di masa depan. Semoga

Pelestarian Situs Budaya, Candi Gedongsanga


Pelestarian Situs Candi Gedongsanga
Melestarikan situs merupakan kewajiban kita bersama saat ini, jika tidak maka generasi mendatang tidak dapat melihat lagi situs budaya semisal candi Gedongsanga .
Kepedulian kita sangat sederhana yaitu tidak merusak lingkungan, dan tetap memelihara keberadaan candi, salah satunya dengan ikut menanam pohon di lingkungan sekitar candi sesuai dengan zona yang benar.
Kepedulian sepereti tersebut diatas telah diwujudkan oleh teman2 dari Museum Jawa Tengah Ranggawarsita pada HUT ke 20 yang lalu dengan penanaman pohon bersama ASITA, AWAI, dan pelaku Pariwisata lain Jawa Tengah.
Semoga kepedulian seperti ini disusul oleh kelompok masyarakat lain yang peduli Budaya bangsa Indonesia.

Minggu, 01 November 2009

Wayang Orang Greget Museum [WOGEM}


W.O.G.E.M ”Wayang Orang”, Greget Museum

( Bangga Peduli Budaya : ” Tali Pita Tali Sepatu ” sesama insan Pariwisata harus Bersatu, kalau ingin Maju )


Oleh Drs.Bambang Sugiharto,MPd.

Sejak lama Ibu Kota Jawa Tengah memiliki Grup Wayang Orang yang kondang Ngesti Pandowo, yang pernah mempunyai Gedung Ngesti Pandowo, Wayang Orang Sri Wanito, dengan pentas di Gedung Subokarti jalan Dr.Cipto Semarang dan sederetan panjang nama lain kelompok Wayang Orang di sekitar Kota Semarang. Sayangnya keberadaan Wayang Orang mulai surut seiring kepindahan Ngesti Pandowo ke pinggiran kota Semarang dan banyak faktor lain termasuk kepedulian Pemerintah dan masyarakat terhadap wayang orang yang semakin terpuruk. Banyak juga kelompok seniman yang mengupayakan bangkitnya kembali Kesenian Wayang Orang, lembaga yang masih nguri-uri Wayang orang di Semarang semisal Taman Budaya Raden Saleh, Dewan Kesenian Semarang dan sebagainya.
Adalah Sanggar GREGET kelompok seniman yang konsisten akan meneruskan kelestarian Wayang Orang dikomandani Bambang Priambodo bersinergi dengan Museum Jawa Tengah Ranggawarsita dan seniman serta pemerhati Wayang Orang di Jawa Tengah menorehkan tajuk Wayang Orang Greget Museum ( WOGEM ) sebagai agenda rutin Pentas Wayang Orang kelompok Sanggar Greget bersama seniman lain setiap Sabtu Kliwon malam Minggu Legi di Museum Jawa Tengah Ranggawarsita Jl.Abdurahman Saleh 1, Kalibanteng Semarang.
Pentas perdana WOGEM tanggal 24 Oktober 2009 pukul 19-00 WIB – 21.30 WIB secara gratis untuk masyarakat umum pemerhati Wayang Orang di Semarang dan sekitarnya. Dengan Lakon ” Karna Lahir – Sayembara Kunti ” didukung oleh sederet sanggar seni Sanggghita, Cahyo Kreasi, Jejaka, Sukma, Lidwina, Yuwono, Srikandi, Tanah Putih, Rahma Sari, dari Semarang- Satria –Wonosobo, Singo Barong – Demak, Warangan Merbabu – Magelang, Puspita Sakanti – Temanggung dan Studio Taksa – Surakarta secara profesional berkolaborasi menggarap setiap episode WOGEM.
WOGEM mengahadirkan jatidiri Budaya Jawa Tengah sebagai bentuk pelestarian Wayang Orang dengan kemasan arif dan matang dengan berakar tetap eksisnya Budaya Adi luhung, segmen pemirsa dan pemerhati masyarakat umum mulai anak-anak, remaja, Dewasa, Pelajar, Mahasiswa dan Orang tua yang menjadi target menuntut kreativitas seni dan konten yang multidinamis.
Terobosan seni pertunjukan WOGEM sekaligus mengisi agenda Tahun Kunjung Musuem 2010 dan Tahun Kunjung Jawa Tengah 2011 secara penuh, Lakon ”Pandawa Lahir” digelar mengawali tahun kunjung Museum 2010 pada tanggal 2 Janauari 2010, serta tgl 6 Februari 2010 dengan Lakon Dewa Ruci dan seterusnya setiap bulan gratis bagi masyarakat umum.
Epos Bharata Yuda akan digelar awal 2011 sampai sepanjang tahun, dan yang lebih penting bagaimana kepedulian anda, kepedulian masyarakat terhadap Budaya Jawa Tengah khususnya Wayang Orang agar tetap lestari dan tidak diklaim oleh Mancanegara. Kita sendiri yang harus peduli.
Dukungan anda menjadi bukti konkrit pelestarian Wayang Orang, dengan mengutip Sesanti Dinbudpar Propinsi Jawa Tengah ” Tali Pita Tali Sepatu ” sesama insan Pariwisata harus Bersatu, kalau ingin Maju.



Oktober 2009.

Selasa, 29 September 2009

Pelestarian Wayang Kulit


Menyongsong Visit Museum Year 2010:


Pelestarian Wayang Kulit, Budaya Tradisional
Koleksi Museum Jawa Tengah Ranggawarsita


Oleh : Drs. Bambang Sugiharto,MPd.

Museum Propinsi Jawa Tengah Ranggawarsita, merupakan Museum yang memiliki koleksi terbesar, dan merupakan Museum Negeri Provinsi Jawa Tengah. Dengan kelengkapan 56.000 koleksi berbagai jenis siap menyongsong Visit Museum Year 2010. Sebagai lembaga pelestari Budaya phisik maupun Budaya hidup, maka Museum Jawa Tengah Ranggawarsita telah melakukan berbagai upaya mulai pementasan Wayang Orang, Wayang Kulit dan wayang lainnya, pameran khusus Wayang Koleksi Museum, sampai Apresiasi Wayang untuk pelajar dan Pergelaran rutin Wayang Kulit Selasa Kliwon dan Pergelaran Wayang Kulit HUT Museum tiap tahun belum lagi acara Wayang Orang Greget Museum ( WOGEM) setiap Sabtu Kliwon mulai November 2009.
Ki Demang Suryanto, sebagai pemerhati Budaya sekaligus pelaku pelestari Budaya Wayang dari Museum Ranggawarsita, merupakan sosok PNS yang peduli dan Bangga akan warisan Budaya Wayang Kulit. Bagaimanapun Koleksi Wayang yang tersimpan di Museum Ranggawarsita sejumlah 13 jenis wayang, dengan total 20 buah peti atau 1982 buah wayang mulai wayang : Beber, Klitik, Wahyu, Kancil, Budha, Golek Menak, Golek Purwa, Suket, Kulit Purwa dan Potehi atau wayang china tidak dapat lagi ditonton atau dipagelarkan di daerah-daerah. Bahkan ada jenis wayang yaitu Klithik yang mulai sulit mencari Dalang yang masih memainkan wayang Klithik.
Berbekal akan kepedulian tadi maka Ki Demang dan teman pemerhati sekaligus pelaku Budaya Wayang Kulit yang tergabung dalam kelompok Maju Kareb, dengan setia “nggladi pringgitan” dalam forum Pagelaran Wayang Kulit Selasa Kliwon-an di Museum Jawa Tengah Ranggawarsita Jl Abdulrakhman Saleh no 1 Semarang.
Uniknya kelompok ini melaksanakan pagelaran wayang kulit dengan biaya sendiri atau iuran dari semua anggota serta donatur masyarakat untuk biaya pementasan, dan difasilitasi sarana tempat dan peralatannya oleh Museum Jawa Tengah Ranggawarsita.
Sebut saja Dalang Suryanto, Dalang Sunaryo DS, Dalang Oon Sartono, dan Dalang Tugino dan Dalang Jayeng adalah buah dari kepedulian kelompok ini. Mereka telah banyak menerima tawaran main di berbagai daerah yang berarti telah ikut melestarikan budaya tradisi wayang kulit. Pagelaran Selasa Kliwon terakhir 28 September 2009 ( Ki Jayeng) mengambil lakon Noyorono Rabi ( Kresno Kawin /Menikah) dan pagelaran berikut adalah Selasa Kliwon ( Anggara Kasih ) tanggal 02 November 2009.

Pelestarian Wayang Kulit yang telah dilaksanakanara rutin oleh Museum Ranggawarsita melalui Konservasi Fumigasi, setiap tahun rata-rata 6 peti wayang atau setara 660 buah. Sejak 2007 sampai 2009 selama tiga tahun terakhir 18 peti wayang telah dikonservasi. Idealnya tiap peti harus dikonservasi dengan Fumigasi setiap tahun sekali, sedangkan sekarang baru 3 tahun sekali setiap peti ( 20 peti koleksi seluruhnya ) mendapat giliran konservasi . Kendala utama adalah kemampuan lembaga dalam hal apenyediaan biaya konservasi.
Akses transportasi yang sering menjadi kendala bagi Daerah Tujuan Wisata tidak berlaku bagi Museum Ranggawarsita, lokasi yang sangat strategis di Bundaran Kalibanteng Semarang, hanya 1 Km dari Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang
Semoga kita masih peduli pada warisan budaya wayang kulit.

Semarang, akhir September 2009

Senin, 31 Agustus 2009

Menyongsong Visit Museum Year 2010 Museum Jawa Tengah Ranggawarsita



Visit Museum Year 2010,
Museum Jawa Tengah Ranggawarsita

Oleh : Drs. Bambang Sugiharto,MPd.

Koleksi, merupakan satu kata kunci bagi sebuah Museum yang sangat berperan bak magnet bagi pengunjung dalam kehidupan museum. Tidak banyak atau bahkan andapun, belum sepenuh hati mengenal Museum Jawa Tengah Ranggawarsita.
Tetapi Sang Profesor Takashi dari Osaka University Tokyo Japan, bersurat untuk menunjungi museum Museum Jawa Tengah Ranggawarsita beserta rombongan karena Museum Jawa Tengah Ranggawarsita, merupakan Museum yang memiliki koleksi terbesar, dan merupakan Museum Negeri Provinsi Jawa Tengah. Dengan kelengkapan 56.000 koleksi berbagai jenis dan seluruh karyawan Museum Jawa Tengah Ranggawarsita siap bersinergi di Visit Museum Year 2010.
Unsur pendukung lain yang menyebabkan sebuah Museum dikunjungi adalah kelengkapan layanan dan sarana yang tersedia. Museum Ranggawarsita telah bersiap diri mulai dari Tata Pameran, pemandu, souvenir shop, layanan Audio visual, Free Hot Spot area, Ruang Apresiasi Seni, Meeting Room, Ticketing dan Travel Biro serta Limo Transport Suttle telah di gelar menanti kunjungan masyarakat dalam dan luar negeri. Mulai pukul 07.30 sampai 15.00 WIB, ruang pamer tetap dapat dikunjungi dan selalu buka bahkan dihari libur dan hari Besar, ini satu-satunya museum negeri yang setiap hari buka tidak pernah libur.
Akses transportasi yang sering menjadi kendala bagi Daerah Tujuan Wisata tidak berlaku bagi Museum Ranggawarsita, lokasi yang sangat strategis di Bundaran Kalibanteng Semarang, hanya 1 Km dari Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang atau 2 menit dengan taxi, 10 Km dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang atau 7 menit dengan taxi, 12 Km dari Pusat Keramaian Kota Semarang Simpang Lima, Pasar Johar/ kota Lama atau 10 menit dengan taxi dan 15 Km dari Terminal Induk Bus Mangkang atau 15 menit dengan taxi serta dari Stasiun Kereta Api Tawang 10 km atau taksi 7 menit dengan taxi.
Itulah sebabnya maka Profesor Koezuka Takashi dengan rombongan sejumlah 11 orang ( bersama Prof. Sukami, Mr.Takeshi Asanuma seorang curator sculpture ( Kyoto National Museum) an 4 Mahasiswa Japan mengunjungi Museum Jateng Ranggawarsita 12 Agustus 2009 khusus meneliti koleksi Sculpture / Bronze yang ada.
Sebelumnya Prof. Naoko Ito,Ph.D ( Hiroshima University) Prof. Mizuno Saya.Ph.D ( Daito Bunka University) dan Prof.Park Hyounggook Ph.D (Musashino Art University) dan rombongan ( 4 orang) pada 10 Agustus 2009 telah datang dan beliau sangat tertarik dengan koleksi Museum Ranggawarsita sekaligus mengambil gambar koleksi Perunggu yang sangat jarang dijumpai (master piece) Vajra dan Vajra Bell, dua koleksi yang pertama ditanyakan . Juga Standing Ganesha yang merupakan satu-satunya koleksi Perunggu yang amat langka di Indonesia.
Sebagai Destinasi dalam peta Pariwisata Jawa Tengah, mulai Januari 2009 sejumlah Cruise Ship dari Eropa, Asia dan Australia telah singgah di Pelabuhan Tanjung Emas dan beberapa diantaranya lewat Angsa Tour dan Merapi Tour singgah juga di Museum Jawa Tengah Ranggawarsita dan sebagai promo sekaligus peduli budaya, ditampilkan seni tradisional mulai, Kuda lumping, Sintren, wayang kulit sampai barongsay dan demo membatik.
Layanan yang dikembangkan selain pameran tetap, pameran khusus koleksi, juga pameran keliling, Layanan Berceritera dan outdoor exhibition ( dalam proses penataan).
Anda bangga dan peduli budaya, jangan ketinggalan dengan wisatawan mancanegara, anda pasti bisa.

1)Mr.Takeshi Asanuma seorang curator sculpture ( Kyoto National Museum) meneliti koleksi perunggu sebagai anggota rombongan Prof. Koezuka Takashi dari Museum of Osaka University.
2)Prof. Naoko Ito,Ph.D (Hiroshima University) sedang mengisi buku tamu beserta rombongan di VIP Room Museum Jawa Tengah Ranggawarsita.


Semarang, Agustus 2009

Minggu, 23 Agustus 2009

Wayang Klithik, Siapa yang Peduli


”Wayang Klithik”, dan pelestarian budaya koleksi

Oleh Drs.Bambvang Sugiharto,MPd.


Wayang Klithik sebagai koleksi Etnogarfika, budaya phisik dimaknai sebagai peninggalan seni adiluhung, bernilai tinggi, benda budaya yang langka keberadaannya. Sebagai benda budaya peninggalan atau warisan budaya secara phisik dapat dilihat, dirawat dan dilestarikan/dikonservasi sesuai dengan jenis bahan baku yang digunakan untuk membuat wayang yaitu kayu. Wayang klithik koleksi Museum Jawa Tengah Ranggawarsita berjumlah 2 kotak (142 buah), satu kotak berasal Dukuh Jurang Desa Warang Kecamatan Krajan Kabupaten Rembang berjumlah 63 buah,dengan perkiraan usia 79 tahun,dan satu kotak lagi berasal dari Kabupaten Klaten berjumlah 79 buah dengan perkiraan usia 83 tahun.

Persoalan melestarikan sebagai benda phisik supaya terhindar dari kerusakan atau gangguan mikro organisme dapat ditempuh dengan dua cara, pertama jika kondisi wayang klithik masih normal maka di perlukan perlakuan (treatment) Fumigasi dengan menggunakan Thymol dan Ethanol dengan jangka waktu minimal selama 20hari. Proses Fumigasi diawali dengan persiapan penataan kurang lebih 2 hari untuk seluruh koleksi wayang Klithik di ruang Fumigasi, kemudian Thymol dilarutkan dengan Ethanol diuapkan dalam ruang fumigasi selama 15 hari, selanjutnya dilakukan sirkulasi atau pembuangan udara yang mengandung uap kimia selama 7 hari barulah wayang klithik dapat dikeluarkan dan dikembalikan ke tempat penyimpanan/storage atau ruang pameran.

Apabila kondisi wayang memerlukan perlakuan cara kedua sudah mengalami kerusakan akibat gulma kayu, maka disuntikkan cairan bahan anti rayap ( Lentrek) dengan masa konservasi minimal dua hari baru dapat dikembalikan ke tempat semula.

Melihat keindahan wayang Klithik dari sisi bentuk phisik tidak cukup di ruang pamer, tetapi bagaimana dapat memaknai koleksi wayang Klithik kalau anda belum pernah melihat bagaimana wayang klithik ”di pentaskan”, wayang klithik disisi yang lain mempunyai seni pentas, pertunjukan yang lebih indah, lebih memukau dan lebih memiliki nilai luhur ajaran norma, agama serta budaya dan seni. Pewarisan budaya kepada generasi penerus kita hanya dapat dilakukan dengan mewariskan budaya hidup ( living Culture ) dari wayang klithik. Hanya saja smpai saat ini pentas wayang Klithik ini susah dijumpai dan sangat jarang dipentaskan bahkan Dalang wayang klithik ini jumlahnya sangat terbatas yang masih hanya beberapa dalang sebut saja : Ki Sarkan dan Ki Reban dari Jepara, Ki Narto Rembang dan lainnya tidak banyak, Jangan sampai anak cucu kita dikemudian hari melihat pentas wayang klithik hanya lewat film dokumenter atau bahkan melihat pentas di negeri orang semisal di Belanda, Suriname atau Malaysia atau lebih drastis lagi anak cucu kita belajar wayang dari orang luar negeri.

Pentas wayang itu sendiri tidak sesederhana yang kita lihat, mulai dari skenario pakem-nya atau lakon yang dipentaskan, Sutradara atau Dalang yang memainkan wayang, dibantu asisten dalang ( 2 orang ), Sinden atau swarawati dua sampai empat orang, penabuh gamelan atau niyaga lengkap sebanyak 20 orang, jenis iringan gending sepanjang pentas selama semalam suntuk diselingi gara-gara dan seterusnya bukanlah hal yang ringan. Semua pelaku itu dapat hidup dari pekerjaan yang berhubungan dengan wayang, maka jika kelangsungan hidup wayang klithik terjaga kelestariannya maka terjaga pula sekian puluh tenaga kerja yang dihidupi oleh satu kelompok seni wayang klithik. Apalagi efek keberadaan wayang terhadap masyarakat cukup besar mulai pedagang kecil, pekerja dan persewaan panggung dan kelengkapannya, perusahaan transportasi yang mengangkut orang maupun wayang dan kelengkapannya sampai petugas soundsystem dan toolsman.

Melestarikan koleksi tidak hanya terbatas pada koleksi wayang klithik secara phisik yang lebih penting dan lebih memberikan makna adalah pelestarian budaya Hidup wayang klithik kepada masyarakat berupa pentas budaya wayang klithik sekaligus mensejahterakan seniman dan mereka yang terlibat. Semoga.

Agustus 2009.